game asyik

Juli 30, 2007 at 20:20 pm07 | In tulisan teratas | Leave a Comment

INFERNAL
review by Budz Kay
TIPE GAME: 3rd Person Shooter
PLUS: Tampilan grafis terbaik. Memanfaatkan Ageia PhysX engine. Penuh aksi tembak-tembakan

MINUS: Alur cerita terlalu linear. Tidak ada replay value. Ada invisible wall. Ide cerita agak aneh. AI musuh buruk
Developer: Metropolis Soft
Publisher: Eidos Interactive, Playlogic

REVIEW 50 SCREENSHOTS (click to zoom)
 

Pada game berjenis 3rd person shooter ini, anda berperan sebagai Ryan Lennox, seorang malaikat yang dibuang dari surga. Ketika ia sedang bersantai di bar bersama teman wanitanya, tiba-tiba segerombolan pasukan dari Everlight corporation menyerbu untuk membunuh Ryan. Setelah berhasil lolos, akhirnya ia memutuskan untuk bersekutu dengan sang penguasa neraka untuk membalas dendam. Sebagai balasannya Ryan dianugerahi dengan infernal power (kemampuan supranatural) yang membuatnya mampu melakukan teleportasi, mengangkat objek (telekinesis), menembakkan ledakan magis (pyrokinesis), melihat sesuatu yang tak bisa dilihat mata manusia, dan juga mampu menyerap jiwa (energi) dari musuh yang telah dibunuh.
Itu semua adalah kemampuan supra natural yang dimilikinya selain dari persenjataan umum seperti pistol, assault rifle, hingga senjata yang aneh-aneh seperti welder gun dan heavy energy beam.

 

redball.gif (916 bytes)GRAFIS (score: 10/10)

Tampilan grafis merupakan keunggulan utama Infernal. Developer game ini cukup royal dalam menjejalkan berbagai macam efek grafis, diantaranya adalah efek-efek Shader Model 3, HDR, retina effect, dan bahkan dukungan untuk Ageia PhysX engine.
Efek ledakan dan serpihan berbagai macam objek yang hancur berkeping-keping terasa begitu realistis dan memukau berkat implementasi Ageia PhysX pada game ini.
Bahkan mungkin anda belum pernah melihat efek ledakan pada game yang lebih bagus dari ini.
Efek semburan api juga terlihat begitu realistis dan memukau.
Kemampuan supranatural yang dimiliki oleh Ryan Lennox sangat potensial untuk menciptakan ledak-ledakan fenomenal di sepanjang permainan.
Implementas PhysX engine juga memungkinkan anda menjatuhkan/mengangkat berbagai benda di sekitar.

Selain special efek yang mengagumkan, bentuk karakter-karakter pada game ini juga cukup bagus dengan texture yang detail.

Game ini sangat layak dinobatkan sebagai game 3rd-person shooter dengan tampilan terbaik di tahun 2007. Tapi ingat…game 3rd person dengan *TAMPILAN* terbaik, bukan game 3rd person terbaik. Sebab untuk menjadi yang terbaik secara keleruhan maka unsur grafis saja tentu masih belum cukup.

 

redball.gif (916 bytes)SUARA (score: 7/10)

Suara tergolong biasa-biasa saja, dan suara teriakan musuh seringkali diulang-ulang hingga terdengar membosankan. Meski demikian background musicnya cukup mendukung..

Setiap pertempuran dimulai akan terdengar musik heavy metal yang lama kelamaan terasa bising dan membosankan. Namun bila semangat anda bisa lebih terpacu dengan adanya musik semacam ini, hal semacam ini bisa jadi nilai plus.

 

redball.gif (916 bytes)GAMEPLAY (score: 7/10)

Infernal merupakan game yang pada dasarnya mirip seperti game legendaris, Max Payne, tapi tanpa aksi bullet time.
Alur cerita yang disajikan game ini juga terkesan agak aneh, mungkin karena mengandung unsur supranatural, mungkin pula karena memang alur ceritanya sendiri yang memang tidak menarik.

Misi pertama menuntun Ryan ke sebuah biara di pegunungan alpen, lalu kemudian cerita berlanjut ke refinery dengan suasana area industri. Selanjutkan lokasi berpindah ke pabrik besi lalu lapangan terbang.

Lokasi misi bervariasi antara area outdoor dan indoor, namun semua alurnya ceritanya tergolong sangat linear. Di semua misi selalu hanya ada 1 rute saja yang harus ditempuh untuk dapat menuju level berikutnya. Konyolnya lagi terdapat “invisible wall” yang membuat anda tak bisa berjalan keluar dari rute yang ditetapkan. Jadi sekalipun anda berada di area outdoor yang terkesan luas & terbuka, anda tak bisa berjalan keluar dari jalan setapak kecil. Ini tentu sangat menggelikan karena biasanya invisible wall hanya diterapkan pada game racing, dan bukan pada game jenis 3rd person shooter.

Bebagai objek pada game ini dapat dihancurkan, dan hal inlah yang membuat gameplay menjadi cukup menghibur. Bahkan gelas-gelas yang ada di meja bar dapat ditembaki.

Senjata basic yang dimiliki adalah shuriken dan pistol, dan kemudian senapan mesin. Nantinya anda juga dapat menggunakan senjata yang lebih dahsyat seperti flamethrower dan bazooka. Untuk menggunakan pistol secara lebih mematikan, anda harus mengumpulkan mana, yang dapat menjadikan tembakan pistol lebih powerful.

Seperti telah disebut sebelumnya, anda juga punya kemampuan supranatural yang dapat digunakan, dimana yang terpenting adalah kemampuan untuk menghisap energi dari mayat musuh. Proses penyerapan energi tersebut cukup memakan waktu (5 detik), sehingga akan cukup merepotkan bila harus melakukannya di tengah-tengah pertempuran dengan banyak musuh.

Kemampuan supranatural lainnya yang dimiliki Ryan adalah teleportasi dan melihat hal yang tak terlihat oleh mata manusia. Kemampuan ini lebih berguna untuk menyelesaikan teka-teki ketimbang untuk membunuh musuh.

Dengan bantuan penglihatan kedua tersebut, anda dapat melihat kode rahasia yang dibutuhkan untuk membuka pintu atau mengaktifkan console. Dengan kemampuan telekinesis anda dapat membersihkan jalan dari tumpukan peti dan rintangan, atau juga bisa digunakan untuk melompati tembok yang tinggi. Sedangkan kemampuan teleportasi hanya bekerja selama beberapa detik saja, dan cukup berguna dalam situasi tertentu, misal untuk memindahkan diri anda ke belakang camera untuk mematikan security system.

Pada waktu pertama kali dimainkan, infernal memang dapat membuat anda terpesona. Tapi tak lama setelah dimainkan anda mungkin akan menjadi bosan dengan begitu cepatnya.
Memang ada teka-teki di sana-sini, namun pada intinya anda harus membunuh apapun yang bergerak. Ini artinya selama anda menemukan musuh berarti anda berjalan ke arah yang benar.

Pada game ini anda akan lebih sering dihadapkan pada tembak-tembakan dengan jumlah musuh yang sangat banyak.
Namun hal yang paling mengecewakan pada infernal adalah buruknya AI musuh. Mereka maju begitu saja tanpa ada taktik sedikitpun. Sehingga pertempuran demi pertempuran terkesan bagaikan pengulangan serangan membabi-buta yang lama-lama membosankan.

 

redball.gif (916 bytes)CONTROL & INTERFACE (score: 10/10)

Control karakter cukup mudah, dan cara pengontrolan crosshair tidak berbeda dengan game first person shooter umumnya.
Interface juga cukup mudah dimengerti dan sederhana.

Game ini cocok dimainkan oleh gamer yang suka akan aksi tembak-tembakan yang simple tanpa melibatkan taktik dan strategi.

 

redball.gif (916 bytes)REPLAY VALUE (score: 5/10)

Alur cerita yang sangat linear menjadikan game ini tak menarik untuk dimainkan lagi bila sudah tamat. Jadi tak ada bedanya dengan menonton film cerita.

Satu-satunya alasan yang membuat anda mungkin rela memainkan game ini lagi dari awal adalah hanya untuk mengisi waktu luang sambil melatih ketangkasan jari-jari anda dan menghibur mata anda dengan ledakan-ledakan yang memukau.
Jelas, Infernal bukanlah seperti S.T.A.L.K.E.R yang masih layak dimainkan berulang kali sekalipun sudah tamat. (Review STALKER bisa dilihat disini).

 

redball.gif (916 bytes)INOVASI (score: 8/10)

Game yang seolah merupakan reinkarnasi Max Payne ini tak membawa inovasi yang berarti selain tampilan grafis yang sangat bagus.
Hal itu pula yang menjadi alasan utama orang memainkan game ini, yaitu untuk melihat keindahan grafisnya saja.
Implementasi Ageia PhysX engine pada game ini tentu merupakan inovasi sangat penting dalam hal grafis. Semua pengguna videocard high-end pasti berbondong-bondong ingin merasakan efek tersebut pada game ini.

Dalam hal gameplay, kemampuan menyerap energi dari mayat musuh juga boleh dianggap sebagai inovasi, kalau hal semacam itu memang dapat menghibur anda.

 

redball.gif (916 bytes)MULTIPLAYER

Game ini tidak memiliki mode multiplayer.
Infernal adalah game action murni ala game console, jadi wajar bila tidak ada mode multiplayer. Dan lagi engine dan map game ini sepertinya tidak dirancang untuk multiplayer, mengingat adanya “invisible wall”.

 

redball.gif (916 bytes)SYSTEM REQUIREMENT

Bila anda memiliki videocard high-end seharga 3 jutaan ke atas, Infernal sudah pasti menjadi game yang dapat menghibur mata anda.
PhysX engine sudah disupport oleh Geforce 8800 sehingga anda akan menyaskiskan efek ledakan yang fantastis dengan menggunakan videocard high-end ini.
Dengan menggunakan platform pengujian yang saya gunakan untuk mereview, Infernal berjalan sangat lancar bahkan seolah terasa sangat ringan.

Meski Infernal dirancang untuk memuaskan pengguna videocard high-end, namun game ini juga masih terlihat lumayan indah dan berjalan cukup lancar di videocard kelas menengah (1,5juta-2 jutaan) seperti Geforce 7900GS/8600GTS.

Sekalipun Infernal mendukung Shader Model 3.0, namun juga masih dapat dimainkan pada videocard jadul yang hanya bisa mensupport Shader Model 2.0, namun tentunya dengan pengorbanan yang cukup fatal dan tragis dalam hal keindahan tampilan.

 

redball.gif (916 bytes)KESIMPULAN: SCORE TOTAL 7.8* /10
* diperoleh dari nilai rata-rata Graphic, Sound, Gameplay, Control Int , Replay Value, Inovasi.

Developer game ini, Metropolist Soft, tampaknya lebih terfokus pada keindahan tampilan grafis ketimbang gameplay, alur cerita, ataupun inovasi menarik lainnya.
Meski demikian harus diakui bahwa saat ini keindahan grafis memang merupakan salah satu daya tarik penting dari sebuah game.
Unsur action pada game ini juga boleh dibilang sangat menghibur, cocok untuk orang yang suka action dan malas berpikir rumit-rumit.

Tema cerita yang terkesan agak dipaksakan mungkin disebabkan oleh keraguan developer game ini yang sudah terlihat semenjak dari awal ketika game ini dibuat. Pada awalnya judul game ini bukan Infernal, melainkan Diabolique: License To Sin, entah kenapa akhirnya dirubah jadi Infernal.

Beberapa media review lain memang ada yang memberi score rendah untuk game ini. Sebenarnya saya pribadi kurang begitu setuju dengan penilaian rendah seperti itu, karena andaikan game ini begitu jeleknya, mustahil game ini diterbitkan oleh Eidos yang notabene publisher game ternama yang juga menerbitkan Tomb Raider.
Bila seorang reviewer menilai Infernal dengan score sangat biasanya yang patut dipertanyakan adalah videocard yang dipakai untuk mereview. Sebab bila menggunakan videocard jadul, maka Infernal jelas terlihat tak punya kelebihan. Dengan kondisi videocard seperti itu, jelas yang perlu mendapat kritik pedas dan score rendah bukanlah gamenya, namun videocard jadul milik reviewer tersebut.

Selain itu cukup banyak pula gamer yang doyan dengan aksi tembak-tembakan yang simple dan menghibur yang disuguhkan oleh Infernal.
Paling tidak, game 3rd-pershon shooter seperti ini biasanya masih lebih disukai oleh para gamer amatiran yang kepalanya pusing dan mual bila memainkan game jenis first-person shooter.

 


Aksi Tembak-tembakanCLICK TO ZOOMCLICK TO ZOOMCLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

Kekuatan Supranatural

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

Efek api

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

Efek ledakan (PhysiX)

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

Di berbagai lokasi

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

Lain-lain

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

.CLICK TO ZOOMCLICK TO ZOOMCLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

.

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

.

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

.

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

.

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

.

CLICK TO ZOOM

CLICK TO ZOOM

SCORE:
7.8/10
(bagus)

INFO II

Juli 30, 2007 at 20:20 pm07 | In tulisan teratas | Leave a Comment

Overclocking Pentium D930 dan Athlon64 X2 3800 dilakukan menggunakan heatsink & fan standard. (Ruangan ber-AC dengan suhu 25C)

redball.gif (916 bytes)PENGUJIAN :

Pengujian dilakukan dengan 9 macam benchmark yang terbagi dalam tujuh macam kategori:
1. Kategori Synthetic Benchmark:
Sisoft Sandra 2005 SR2 Pro
2. Kategori Aplikasi bisnis&multimedia:
PCMark 2005
3. Kategori Aplikasi 3D:
Cinebench 2003
4. Kategori Video editing/Encoding:
DivX 5.21
5. Kategori Game 3D:
FEAR
6. Kategori Aplikasi scientific:
Dual SuperPI 1.5 (parallel)
7. Kategori Price-Performance Index:
Cinebench 2003, FEAR

BENCHMARK PLATFORM:

CPU:
- Pentium D 805, 820, 840, 930
- Athlon 64 “Venice” 3000, 3200, 3500, 3800
Komputek Overclocking Contest
- Athlon 64 X2 3800 “Manchester”
- Athlon 64 X2 4400 “Toledo”
- Celeron D 336
- Sempron 3100

CPU Cooler :
- Heatsink standard (ruangan ber-AC dengan suhu 25C)

Motherboard
- Pentium D : ASUS P5WD2-E Premium (i975X)
- Athlon64 X2 : ASUS A8N32-SLI Deluxe (NForce 4 SLI X16)

Memory :
- 2 X 512MB OCZ DDR2 800 (PC6400) –> for Intel
- 2 X 512MB OCZ DDR1 600 (PC4800) –> for AMD

Harddisk: 80GB Seagate Barracuda 7200.9 SATA2

Videocard PCI Express: Geforce 7800GT

Driver: Forceware 84.21

Windows XP Professional SP2
DirectX 9c Feb 2006

KATEGORI 1: SYNTHETIC BENCHMARK

redball.gif (916 bytes)SISOFT SANDRA 2005 SR2 Professional – ARITHMETIC BENCHMARK

  . . Dhrystone (ALU )
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $190

  21767
Athlon64 X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10) $305

  21690
Pentium D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20) $135

  20103
Athlon 64 X2 4400 (2×1MB L2)
$600

  18911
Pentium D 840 EE (3.2GHz)
$800

  18752
Pentium D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20) $135

  18007
Pentium D 840 (3.2GHz)
$450

  17693
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$305

  17130
Pentium D 930 (3.0GHz)
$130

  16078
Pentium D 820 (2.8Ghz))
$275

  15329
Pentium D 805 (2.66GHz)
$125

  14308
Athlon 64 3800
$275

  10185
Athlon 64 3500
$125

  9390
Pentium 4 631 (3.0Ghz) $180

  9000
Athlon 64 3200
$105

  8795

Pengujian performa ALU pada benchmark sintetis Sisoft Sandra 2005 Artithmetic memperlihatkan bahwa dalam keadaan default Pentium D930 masih belum mampu mengalahkan Athlon64 X2 3800.

Namun dalam kondisi overclock, D930 terlihat mampu membalik keadaan.
Athlon 64 3800 yang merupakan prososer single-core AMD dengan harga lebih mahal daripada prosesor dual-core intel, harus rela dipermalukan habis-habisan oleh Pentium D930.

 

redball.gif (916 bytes)SISOFT SANDRA 2005 SR2 Professional – MULTIMEDIA BENCHMARK

  . . Floating Point
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $190

  54811
Athlon64 X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10) $305

  52600
Pentium D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20) $125

  49531
Pentium D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20) $125

  44435
Pentium D 840 (3.2GHz)
$250

  43265
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$305

  41476
Pentium D 930 (3.0GHz)
$190

  40470
Pentium D 830 (3GHz)
$190

  40180
Pentium D 820 (2.8Ghz))
$190

  37992
Pentium D 805 (2.66GHz)
$125

  35214
Pentium 4 631 (3.0Ghz) $180

  29180
Athlon 64 3800
$275

  24805
Athlon 64 3500
$125

  22745
Athlon 64 3200
$105

  20657

Pengujian performa floating point pada Sisoft Sandra 2005 Multimedia benchmark juga menunjukkan hasil yang sama. Dalam keadaan default Athlon64 X2 3800 lebih unggul, namun dalam keadaan overclock prosesor dual-core AMD ini harus mengakui keunggulan D930.
Benchmark ini juga menunjukkan bawha L2 cache sebesar 4MB pada D930 memberikan penignkatkan perorma yang signifikan bila dibanding L2 cache yang cuma 2MB pada D830.

 

redball.gif (916 bytes)SISOFT SANDRA 2005 SR2 Professional – MEMORY BENCHMARK

  . . Integer
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $190

  6830
Athlon64 X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10) $305

  6390
Athlon 64 3800
$275

  6005
Athlon 64 3500
$215

  5800
Athlon 64 X2 4400 (2×1MB L2)
$600

  5620
Athlon 64 3200
$105

  5450
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$305

  5217
Pentium D 930 (3.0GHz)
$190

  5150
Pentium D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20) $125

  4677
Pentium D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20) $125

  4231
Pentium D 805 2.66 @ 3.0GHz
(fsb150 x 20) $125

  3819
Pentium D 805 (2.66GHz)
$125

  3411

Hyper-Transport system bus pada platform Athlon64 X2 3800 memang mampu memberikan memory bandwith yang mengungguli D930 pada kondisi default. Namun ketika D930 dioverclock, kombinasi DDR2 800 dan Quad-pumped system bus yang dimilikinya mampu membuat prosesor ini menggulingkan Athlon64 X2 3800 dari tahtanya.

Berbeda dengan D930 yang superior dalam hal memory bandwith, D805 terlihat kurang memuaskan, ini akibat FSB-nya yang jauh dibawah D930, yaitu hanya FSB533 (default) dan FSB740 (overclock). Sedangkan D930 menggunakan FSB800 (default) dan FSB1092 (overclock).

Hal lain yang patut diperhatikan adalah memory bandwith Athlon64 single-core (Athlon64 3800) yang jauh lebih tinggi dibanding Athlon64 dual-core (Athlon64 X2 3800). Tampaknya hal ini merupakan efek samping negatif dari penggunaan memory controller yang terintegrasi.

 

KATEGORI 2: APLIKASI BISNIS & MULTIMEDIA

redball.gif (916 bytes)BENCHMARK PCMARK 2005 – CPU

  . . . . 1024×768x32bit
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $200

  6842
Pentium D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20) $135

  5991
Pentium D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20) $135

  5330
Pentium D 840 (3.2GHz)
$300

  5232
Athlon64 X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10) $305

  5150
Pentium D 930 (3.0GHz)
$190

  5043
Pentium D 830 (3.2GHz)
$190

  4955
Pentium D 805 2.66 @ 3.0GHz
(fsb150 x 20) $135

  4977
Athlon 64 X2 4800 (2×1MB L2)
$895

  4858
Pentium 4 631 3.0 @ 4.3Ghz
(fsb285 x 15) $180

  4755
Pentium D 820 (2.8Ghz))
$275

  4709
Athlon 64 X2 4400 (2×1MB L2)
$600

  4458
Pentium D 805 (2.66GHz)
$130

  4358
Athlon 64 X2 3800
$305

  4046
Pentium 4 631 (3.0Ghz) $180

  4000
Athlon 64 3800
$275

  3453
Athlon 64 3500
$125

  3165
Athlon 64 3200
$105

  2602

Pada benchmark PCMark05 yang yang mensimulasikan kinerja aplikasi multimedia & multitasking terlihat bahwa Pentium D930 ternyata sanggup mengalahkan Athlon64 X2 3800 dalam keadaan default maupun overclock.
Athlon64 X2 3800 yang dioverclock ke 2.56GHz bahkan masih belum bisa mengalahkan D805 yang dioverclock di 3.32GHz.
Hal ini bisa dimaklumi karena pengujian PCMark cenderung sarat dengan aplikasi multimedia (video & audio encoding), dimana prosesor Intel cenderung lebih unggul di bidang tersebut.
Pada benchmark ini juga terlihat bahwa perbedaan besar L2 cache antara D830 (2MB) dan D930 (4MB) memiliki dampak yang cukup signifikan pada kinerja.

KATEGORI 3: APLIKASI DESIGN 3D

redball.gif (916 bytes)CINEBENCH 2003 (CINEMA 4D XL 8)

  . . . . Raytracing (CB)
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $200

  679
Athlon64 X2 3800 @ 2.56GHz
(fsb256 x 10) $305

  667
Pentium D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20) $135

  612
Pentium D 840 EE (3.2GHz)
dual core + HT $800

  610
Pentium D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20) $135

  550
Pentium 4 631 3.0 @ 5.1Ghz
(fsb285 x 15) $180

  539
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$305

  535
Pentium D 840 (3.2GHz)
$450

  528
Pentium D 930 (3.0GHz)
$130

  501
Pentium D 805 2.66 @ 3.0GHz
(fsb150 x 20) $135

  494
Pentium D 820 (2.8Ghz))
$275

  465
Pentium D 805 (2.66GHz)
$135

  445
Pentium 4 670 (3.8GHz)
$500

  403
Pentium 4 660 (3.6GHz)
$410

  382
Athlon 64 3800
$275

  341
Pentium 4 631 (3.0Ghz) $180

  321
Athlon 64 3200
$165

  279
Athlon 64 3000
$125

  256
Sempron 3100
$80

  254
Celeron D 336 (2.8Ghz)
$55

  225

Pada pengujian rendering Cinebench 2003, Athlon64 X2 3800 mampu menunjukkan superioritasnya.
Hal ini tentu bisa dimaklumi bila mengingat Pentium D930 adalah prosesor kelas menengah seharga $210 sedangkan Athlon64 X2 3800 adalah proseor high-end seharga $305. Namun dalam adu overclock, Pentium D930 yang lebih murah ini mampu mempermalukan Athlon64 X2 3800.

Cinebench 2003 merupakan benchmark yg menggunakan engine yang sama dengan Software Cinema 4D XL 8 yg cukup populer di kalangan animator 3D. Software ini mendukung multi-CPU maupun Hyperthreading.
Para arsitek dan designer grafis 3D tentu akan sangat merasakan manfaat prosesor dual-core D930 yang lebih terjangkau ini bila ingin melakukan rendering dengan software-software seperti 3D Studio Max, Maxon4D, dsb

 

KATEGORI 4: VIDEO EDITING/ENCODING

redball.gif (916 bytes)DivX 5.21 Encoding

  . . DVD “Saving Private Ryan”
durasi 12menit

.
. Konversi DVD (.vob) ke DIVX (.avi)
(menit:detik)
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $200

  04:26
Athlon64 X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10) $305

  04:42
Pentium D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20) $135

  05:05
Pentium D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20) $135

  05:37
Pentium D 930 (3.0GHz)
$130

  06:00
Pentium 4 631 3.0 @ 4.3Ghz
(fsb285 x 15) $180

  06:00
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$305

  06:01
Pentium D 830 (3 Ghz))
$190

  06:22
Athlon 64 3000 @ 2.5GHz
$125

  06:45
Pentium D 805 (2.66GHz)
$135

  07:00
Athlon 64 3800
$275

  08:24
Pentium 4 631 (3.0Ghz)
$180

  08:52
Athlon 64 3500
$125

  09:02
Athlon 64 3200
$105

  09:40
Athlon 64 3000
$95

  10:04

Pada pengujian DivX encoding, yaitu konversi movie dari format DVD (VOB) ke DivX, Pentium D930 hanya menang tipis dibanding Athlon64 X2 3800. Namun dengan menggunakan Pentium D930 para praktisi video editing tentu dapat menghemat jutaan rupiah karena mendapat performa yang setara dengan Athlon64 X2 3800 yang jauh lebih mahal. Penghematan sebesar $115 tentu dapat digunakan untuk membeli video editing card yang lebih bagus lagi ataupun penambahan RAM.
Dalam menjalankan proses Divx encoding terlihat bahwa prosesor single-core sangat sulit untuk melawan dual-core. Selain itu terlihat pula ada perbedaan kinerja yang signifikan antara D830 (L2 cache 2MB) dengan D930 (L2 cache 4MB)

Ketika D930 dan Athlon64 X2 3800 sama-sama dioverclock, D930 mampu unggul cukup jauh. Pada benchmark ini terlihat pula kinerja Athlon64 3000 Venice yang dioverclock di 2.5GHz. Perbandingan tambahan ini menunjukkan bahwa pada aplikasi video encoding, prosesor single-core yang dioverclock habis-habisan sekalipun masih belum mampu mengalahkan performa prosesor dual-core dalam keadaan deafult

 

KATEGORI 5: GAME 3D

redball.gif (916 bytes)F.E.A.R (menggunakan VGA Geforce 7800GT)

  1024×768 – High
Athlon64 X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10) $305

  98
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $200

  95
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$305

  89
Pentium D 930 (3.0GHz)
$130

  88

Memang harus diakui bahwa Athlon64 X2 3800 mampu menunjukkan kehebatannya dalam game, seperti yang ditunjukkan pada hasil benchmark game FEAR diatas.
Namun sebenarnya perbedaan performa yang mampu diberikan sebuah prosesor pada game sangatlah kecil.
Ini terlihat pada perbedaan performa antara Athlon64 X2 3800 dengan D930 pada FEAR yang hanya berkisar 1-3 fps saja. Dalam pemakaian sehari-hari, perbedaan sebesar ini jelas tidak akan terasa. Perbedaan performa game akan lebih terasa bila terdapat perbedaan VGA card yang digunakan, bukan prosesor.

Perlu diingat bahwa VGA card yang digunakan pada pengujian ini adalah Geforce7800GT yang notabene cukup powerful. Namun ternyata dengan VGA card semacam ini perbedaan performa antar prosesor ternyata cuma berkisar 3fps saja, jadi bila anda menggunakan VGA card yang lebih lambat dari Geforce 7800GT maka perbedaan performa antar prosesor nyaris tak ada.

Sekalipun Athlon64 X2 3800 mampu “menang tipis“ atas D930, namun para gamer jelas tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari kemenangan Athlon64 X2 3800, karena mereka harus menebus selisih harga sebesar $115 untuk sebuah prosesor AMD yang hanya mampu memberikan peningkatan performa sebesar 3fps saja. Justru dengan menggunakan D930 para gamer akan menghemat lebih banyak uang yang dapat dipakai membeli VGA card yang lebih powerful. Dengan menggunakan VGA yang lebih powerful, peningkatan framerate yang didapat akan berkisar 10fps lebih, bukan cuma sekedar 3fps saja.

 

redball.gif (916 bytes)3DMARK 2005 (build 330) – CPU Test (menggunakan VGA Geforce 7800GT)

  . . CPU Test – Default
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $190

  8045
Athlon64 X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10) $305

  7640
Pentium D 930 (3.0GHz)
$190

  6141
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$305

  5870

Benchmark paling populer yang menjadi kiblat para overclocker ini menunjukkan keperkasaan D930 dalam kondisi default maupun overclock.
3DMark 2005 merupakan gaming benchmark yang telah mengoptimalkan dual-core.

 

KATEGORI 6: APLIKASI NON-DUAL CORE

redball.gif (916 bytes)SUPER PI 1.5

  . ..2 x 1 MILLION PI CALCULATION
parralel calculation (menit:detik)
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $190

  0:31.84
Athlon64 X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10) $315

  0:36.1
Pentium D 805 2.66 @ 3.7Ghz
(fsb185 x 20) $135

  00:36.25
Pentium D 805 2.66 @ 3.32GHz
(fsb166 x 20) $135

  00:40.32
Pentium D 930 (3.0GHz)
$190

  00:42.75
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$315

  00:42.85
Pentium 4 631 3.0 @ 4.3Ghz
(fsb285 x 15) $180

  00:43.20
Pentium D 805 (2.66GHz)
$135

  00:49.30
Athlon 64 3000 @ 2.5GHz
$95

  01:09.1
Athlon 64 3000
$95

  01:35

Dalam kondisi default maupun overclock, Pentium D930 terlihat lebih unggul dibanding Athlon64 X2 3800. Ketika 2 program SuperPI 1M dijalankan secara bersamaan, maka buruknya kinerja multitasking dari sebuah prosesor single-core seperti Athlon64 3000 terlihat jelas. Athlon64 3000 yang dioverclock ke 2.5GHz sekalipun ternyata masih terlalu lambat untuk mengalahkan prosesor dual-core yang berjalan di clock default saja.

 

KATEGORI 9: PRICE-PERFORMANCE INDEX

redball.gif (916 bytes)3D RENDERING PERFORMANCE per UANG $1 YANG DIKELUARKAN

  CINEBENCH 2003
CB score : harga prosesor
(point CB per $1 uang yang dikeluarkan)
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $190

  3.57
Pentium D 930 (3.0GHz)
$190

  2.64
Athlon64 X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10) $315

  2.19
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$315

  1.75

Dari sisi price-performance (value) yang diperoleh seorang pengguna aplikasi rendering 3D, Pentium D930 terbukti mampu memberikan kinerja lebih tinggi untuk setiap uang yang dikeluarkan. Athlon64 X2 3800 yang dioverclock sekalipun ternyata masih belum mengalahkan price-performance ratio D930 dalam keadaan default sekalipun. Ini akibat harga Athlon64 X2 3800 yang sangat mahal.
Bila ada istilah awam mengatakan “harga kurang sepadan dengan performa yang diperoleh” mungkin istilah tersebut agak tepat untuk harga Athlon64 X2 3800 yang saat ini masih saja mahal.
NOTE: Cara menghitung rasio adalah dengan membagi score benchmark dengan harga prosesor

Cinebench2003 jadi patokan untuk mengukur price performance index, karena aplikasi ini mensupport multi-core dan netral (tidak pro Intel ataupun AMD). Bahkan mungkin Cinebench2003 cenderung pro-AMD karena dalam referensi resminya terlihat bahwa Athlon FX60 yang merender dengan 2 core mampu mengalahkan Pentium D 955 Extreme Edition yang seolah merender dengan 4 core.

 

redball.gif (916 bytes)GAMING PERFORMANCE per UANG $1 YANG DIKELUARKAN

  F.E.A.R.
Framerate : harga prosesor
(frame per second per $1 uang yg dikeluarkan)
Pentium D 930 3.0 @ 4.1Ghz
(fsb273 x 20) $190

  0.50
Pentium D 930 (3.0GHz)
$190

  0.46
Athlon64 X2 3800 @ 2.56 GHz
(fsb256 x 10) $315

  0.32
Athlon 64 X2 3800 (2×512KB L2)
$315

  0.29

Sekalipun kinerja Athlon 64 X2 3800 lebih unggul dibanding D930 pada game FEAR, namun selisih performanya terlalu kecil dibanding selisih harga sebesar $115 antara D930 dengan Athlon64 X2 3800. Oleh karena itu, dari sisi price-performance ratio untuk kinerja gaming , D930 justru menang telak atas Athlon64 X2 3800. Karena pada dasarnya perbedaan performa antar prosesor di game tidaklah signifikan, sehingga membeli prosesor Athlon64 X2 3800 yang lebih mahal itu justru menjadi sebuah pemborosan bagi para gamer.

 

redball.gif (916 bytes)KESIMPULAN

KONDISI DEFAULT

Sebagai prosesor kelas menengah di kisaran harga $190, Pentium D930 terbilang cukup sukses memukul telak seluruh jajaran prosesor single-core sekaligus memberikan performa yang cukup mengejutkan bagi Athlon64 X2 3800 yang harganya jauh lebih mahal.
Sekalipun jauh lebih murah, Pentium D930 dalam kondisi default ternyata masih mampu mengalahkan Athlon64 X2 3800 di beberapa benchmark. Memang bagaimanapun juga dalam kondisi default Pentium D930 tetap harus mengakui superioritas Athlon64 X2 3800. Hal ini tentu tidak mengherankan karena Pentium D930 adalah prosesor kelas menengah seharga $190 sedangkan Athlon64 X2 3800 adalah prosesor kelas atas seharga $305.

Oleh karena itu manfaat yang dirasakan oleh pengguna Pentium D930 (yang tidak suka overclock) adalah performa yang nyaris setara dengan Athlon64 X2 3800 namun dengan penghematan uang jutaan rupiah.
Ada banyak komponen lain di dalam sebuah PC yang tak kalah menarik untuk diupgrade (misal: VGA, memory, optical drive, hardisk, dsb). Dengan penghematan yang dilakukan, pengguna Pentium D930 akan memiliki budget extra untuk mengupgrade komponen hardware lainnya. Penghematan sebesar $115 tersebut dapat dipakai untuk menambah RAM sebesar 1GB lagi, membeli 2 hardisk untuk RAID, ataupun mengupgrade ke tipe VGA yang lebih kencang.

KONDISI OVERCLOCK

Dalam kondisi default, kekuatan D930 memang tidak banyak terlihat, oleh karena itu prosesor ini hanya mampu menang atas Athlon64 X2 3800 di sebagian benchmark saja.
Namun ketika D930 dioverclock, potensi prosesor 65nm ini mulai terlihat, sehingga hampir di semua benchmark mampu mengalahkan Athlon64 X2 3800 yang juga dioverclock.
Angka 4.1Ghz untuk D930 dan 2.56GHz untuk Athlon64 X2 3800 adalah kenaikan overclock yang paling sering diperoleh pada kebanyakan prosesor yang beredar di pasaran (dengan menggunakan HSF standard). Bagi yang beruntung menemukan “prosesor emas” maka bukan mustahil memperoleh Pentium D930 yang mampu digenjot ke 4.8GHz ataupun Athlon64 X2 3800 yang mampu dipecut ke 2.9GHz. Namun peluang mendapat prosesor semacam itu boleh dibilang 1 diantara 1000, dan untuk mencapai kecepatan ekstrim seperti itu selain diperlukan fantor keberuntungan juga diperlukan pendingingan ekstrim pula seperti watercooling, dry ice, atau bahkan phase-change yang biayanya tentu tidak murah.
Paling tidak, dengan sistem watercooling yang tidak terlalu mahal, hampir semua D930 rata-rata dapat dipecut hingga kisaran 4.5GHz tanpa kepanasan. (Hal ini akan dibahas di artikel mendatang)

Terlepas siapa yang tampil sebagai pemenang dalam duel overclocking D930 vs. Athlon64 X2 3800, namun yang paling menarik dari D930 bagi para overclocker adalah harganya yang jauh lebih murah daripada Athlon64 X2 3800. Dengan selisih harga sekitar $115, maka pengguna D930 akan memiliki lebih banyak dana extra untuk melakukan overclocking.

game pada pc

Juli 30, 2007 at 20:20 pm07 | In tulisan teratas | Leave a Comment

icon-pcxbox360.gifSelama ini orang menganggap bahwa game console seperti Playstation dan XBOX adalah sarana terbaik untuk bermain game, sementara fungsi game di PC hanyalah fungsi tambahan saja. Kebanyakan gamer juga masih menganggap bahwa game console mampu memberikan gambar yang lebih baik ketimbang PC.
Anggapan tersebut bisa saja benar jika PC yang mereka gunakan masih
menggunakan videocard kacangan, yang praktis fungsinya tak berbeda jauh dengan PC di kantor camat yang praktis fungsinya hanya untuk mengetik dan internetan saja.

Sebenarnya semenjak tahun 2003 (tepatnya di era Geforce 4), perkembangan teknologi videocard untuk PC sudah jauh diatas kemampuan chip grafis yang digunakan oleh game console terbaik saat itu.
Playstation2 dan XBOX (generasi pertama), saat itu memiliki kinerja yang masih dibawah Geforce4 Ti 4200. Memang harus diakui bahwa harga videocard Geforce4 tipe tersebut saat itu masih lebih mahal daripada harga sebuah Playstation2. Hal itulah yang menyebabkan bermain game di PC dianggap sebagai hal yang mewah dan dianggap lebih menghabiskan biaya ketimbang bermain game di PC.

Empat tahun telah berlalu dan kini game console telah menjelma pula menjadi barang mewah. XBOX telah berevolusi menjadi XBOX 360 yang kini harga jualnya sekitar 4 juta, dan Playstation2 juga telah alih generasi menjadi Playstation 3 yang dibandrol dengan harga 5 juta lebih. Bila dulu harga game console lebih murah daripada sebuah PC biasa, kini harga sebuah game console lebih mahal daripada PC biasa bahkan notebook.
Banyak pecinta game console berpendapat harga tersebut pantas karena mereka mengangggap bahwa XBOX 360 dan Playstation3 adalah sarana bermain game yang memiliki tampilan grafis terbaik saat ini.
Ini adalah anggapan yang salah besar, dan ini disebabkan karena para consoole mania tersebut terlaku lama melotot didepan TV bersama game console kesayanganya hingga tidak mengikuti perkembangan teknologi terkini.
Hingga detik ini, PC masih tetap merupakan perangkat bermain game gaming yang lebih canggih dibanding game console terbaru sekalipun.
Secara logika akal sehat saja, mustahil sebuah PC kalah canggih dibanding game console, karena semua game console diciptakan di PC.


Gaming PC vs. XBOX 360

Saat ini, teknologi videocard untuk PC lagi-lagi telah jauh diatas kecanggihan teknologi game console terbaru. Seri videocard Geforce yang 4 tahun lalu masih seri ke 4, kini telah memasuki seri ke 8, yaitu Geforce 8800.
Geforce 8800 seri termurah, yaitu Geforce 8800GTS 320MB memiliki teknologi & kinerja yang jauh diatas XBOX 360 dan Sony Playstation3. Namun harga videocard tersebut bahkan lebih murah dibanding harga Playstation3 dan XBOX 360.

Sebuah Gaming PC berbasis prosesor terbaru (Core2 Duo) dan menggunakan generasi videocard terkini (Geforce 8800GTS) memang akan menelan biaya nyaris 2X harga XBOX 360, namun Gaming PC tersebut memiliki fungsi yang 7X lebih banyak dibanding sebuah game console. Dan perlu diingat bahwa tampilan game di Gaming PC tersebut jauh lebih baik dibanding di XBOX 360.

Untuk lebih jelasnya lihat tabel perbandingan spesifikasi antara sebuah Gaming PC dengan XBOX 360.

Gaming PC XBOX 360
CPU Core2 Duo E4300 (Dual-Core) 1.8GHz IBM/PowerPC Xenon (Triple-Core) 3.2GHz
Motherboard Intel P965 chipset  
Graphic Nvidia Geforce 8800GTS 320MB GDDR3 ATI Xenos (R500)
Memory 2GB DDR2 667Mhz 512MB GDDR3 700Mhz (shared)
Hardisk 160GB SATA2 7200RPM 20GB SATA 5400RPM
Optical drive DVD±RW / RAM 16X Super-Multi DVDROM 12X
Audio 7.1 channel 5.1 channel
Controller Keyboard, Mouse, Gamepad, Remote Gamepad, Remote
Power Supply Pure-Power 400W dual-rail Standard 203 watt
Fungsi - Gaming
- Video Editing
- Movie/Music Encoding
- Desktop Publishing
- Graphic Design
- Office productivity
- Multimedia
- DVD/CD duplicator
- Home entertainment
- Internet browsing
- Scientific calculation
- Server
- Chatting
- Blogging
- Instant messaging
- Web Design
- Data Storage
- dan masih banyak lagi….
- Gaming
- Home entertainment
Penggunaan
24 jam x 7 hari
Bisa Tidak bisa
Harga Rp. 7.6 juta Rp. 4 juta
Rp. 5 juta (+ UPS dan VGA adaptor)
Garansi 1-3 tahun, Lifetime* *untuk memory Tidak ada garansi

Fitur, spesifikasi, dan fungsi XBOX 360 masih kalah jauh dibanding Gaming PC

Dalam hal fitur, spesifikasi Gaming PC juga jauh lebih unggul dibanding XBOX 360. Tidak ada satupun fitur XBOX 360 yang tidak bisa dimiliki sebuah PC.

pcxbox360-ringofdeath.jpg (7319 bytes)
Mati Total: Tiga indikator merah menyala menandakan kerusakan hardware.
Ini merupakan penyakit langganan Xbox 360 yang biasanya disebabkan karena kepanasan atau seringnya mati lampu.
Tidak adanya garansi tentu bisa membuat pemiliknya ikut mati kena serangan jantung.

Dari sisi daya tahan, XBOX 360 juga terkenal ringkih dan tidak tahan panas. Selain itu game console ini juga terkenal rawan rusak karena ketidakstabilan arus listrik dan putusnya arus listrik secara mendadak. Oleh karena itu UPS (yang harganya sekitar 500 ribu) mutlak diperlukan bila anda tidak ingin XBOX 360 anda rusak dalam hitungan hari.

Sifat XBOX 360 yang gampang rusak ini diperparah lagi dengan tidak adanya garansi untuk XBOX 360 yang harganya tidak murah tersebut. Jadi anda seolah untung-untungan dan mengambil resiko menghamburkan uang senilai 4 juta rupiah.
Bila sampai rusak, tentu saja resiko jelas harus ditanggung sendiri, dan nantinya anda juga akan tahu bahwa biaya servis XBOX 360 tidaklah murah.
Ini berbeda dengan Gaming PC yang semua komponennya memiliki garansi 1-3 tahun. Bahkan beberapa komponen memliki garansi seumur hidup.
Perlu diketahui bahwa di industri barang elektronik, barang yang garansinya paling baik adalah PC. Beberapa konmponen PC dikenal memiiki garansi replace (ganti baru) dan lifetime (seumur hidup), sesuatu yang jarang ada di barang elektronik lain.
Semua XBOX 360 yang beredar di Indonesia tidak ada garansinya karena semuanya telah dimodifkasi agar bisa menerima DVD bajakan.
Hal ini tentu berbeda dengan PC yang masih saja tetap bergaransi sekalipun dimodifikasi.

Para pengguna game console semenjak dulu juga kerap dipusingkan dengan penyakit “optik lemah”. Sangat banyak pengguna Playstation2 yang menjadi pasien abadi tempat servis karena masalah penyakit optik yang satu ini. Hal seperti ini juga tidak mustahil akan menimpa pengguna XBOX 360. Sedangkan pengguna PC jarang sekali mengeluhkan problem seperti itu. Kalaupun terjadi, cukup tinggal ganti dengan DVDRW drive baru yang kini harganya cuma 300 ribuan saja. Sementara bagi pengguna XBOX 360, silahkan cek sendiri betapa mahalnya harga DVDROM XBOX 360. Bahkan harganya masih jauh lebih mahal daripada harga DVDRW drive untuk PC.
Bagi pengguna Playstation 3, silahkan bayangkan betapa mahalanya biaya yang harus mereka keluarkan andaikan Blu-Ray Drive mereka sampai mengidap penyakit “optik lemah”. Karena hal itulah game console terkenal sebagai barang yang biaya perawatannya jauh lebih mahal daripada PC.

Banyak orang berpikir bahwa dengan memiliki XBOX 360 akan lebih hemat karena cukup memerlukan TV saja. Perlu diketahui bahwa tampilan game di XBOX 360 akan terlihat kurang bagus jika masih menggunakan layar TV biasa, oleh karena itu pada akhirnya anda juga harus membeli converter VGA seharga 500 ribu dan sebuah monitor PC. Atau bila ingin lebih optimal lagi maka anda harus membeli HDTV yang harganya diatas 5 juta.

Ini berarti selain dari harga dasar XBOX 360 yang 4 jutaan itu, anda harus mengeluarkan biaya extra lagi sebesar 1 juta untuk membeli UPS dan VGA adaptor.
Namun dengan penambahan biaya extra seperti itupun tampilan grafisnya juga masih belum mengalahkan Gaming PC yang harganya sudah mulai terpaut sedikit dengan harga XBOX 360 plus UPS dan VGA adaptor.
Salah satu faktor yang membuat tampilan game XBOX 360 terlihat kalah tajam dibanding PC adalah karena resolusi native game XBOX 360 hanya 720p saja, padahal para PC gamer umumnya bermain di resolusi 1280×1024 (minimal 1024×768).

  Gaming PC Game Console
  Geforce
8800 GTS
XBOX
360
Playstation
3
Produsen chip grafis Nvidia ATI Nvidia
Codename G80 Xenos (R500) RSX (G70)
Jumlah transistor 681 juta 332 juta 300 juta
GPU Clock 500Mhz 500Mhz 550Mhz
Graphic Memory type DDR3 DDR3 DDR3
Graphic Memory clock 800Mhz 700MHz 700MHz
Memory bus 320-bit 128-bit 256-bit
Unified Shader Yes Yes No
Pixel Shader unit 96 48 24
Vertex Shader unit 96 48 8
Maximum Anti Aliasing 16X 4X -
Maximum Resolution 2560×1600 (XHD) 1080p (HD) 1080p (HD)
DVI-out yes no yes
DirectX technology 10 9 9
Shader Model 4.0 3.0 3.0
HARGA $350 – $650 $420 $600

Teknologi grafis Game Console terbaru masih tertinggal jauh dibanding Gaming PC
Playstation3 saat ini adalah game console dengan teknologi paling purba

Dari tabel perbandingan chip grafis yang digunakan pada Gaming PC dan game console, terlihat bahwa Playstation3 sebenarnya masih mengandalkan chip grafis G70 yang tak lain adalah adalah chip grafis jadul yang ada pada videocard lawas Geforce 7800GTX.

XBOX 360 jelas terlihat lebih unggul dibanding Playstation3 karena chip grafis pada game console lansiran Microsoft ini telah mengadopsi teknologi unified shader. Namun perlu diingat bahwa chip grafis ATI Xenos yang digunakan pada XBOX 360 adalah chip grafis unified shader era lawas, yang masih mengandalkan jumlah unified shader sebanyak 48 saja. Sedangkan Geforce 8800GTS telah menggunakan 96 unified shader. Ini menandakan bahwa game console tercanggih saat ini ternyata menggunakan teknologi chip grafis yang telah usang di PC.
Keunggulan yang dimiliki Geforce 8800GTS tersebut memungkinkan tampilan game terlihat lebih bagus dibanding di XBOX 360 dan Playstation3.
Geforce 8800GTS juga merupakan videocard yang sangat bertenaga sehingga game akan berjalan lancar sama seperti di game console.

Karena teknologi chip grafis Playstation3 tergolong lebih purba dibanding XBOX 360 (dan tentu saja tampilan gambarnya lebih jelek lagi), maka pada artikel ini cukup diperbandingkan antara PC dan XBOX 360 saja. Karena XBOX 360 adalah game console yang teknologinya lebih canggih daripada Playstation3.

Bila anda bertanya kenapa Sony Playstation3 yang lebih purba itu ternyata dijual lebih mahal daripada XBOX 360. Jawabanya adalah: Karena Sony adalah perusahaan yang tidak mau menjual barang dengan profit tipis. Kalaupun Sony punya produk sandal jepit, harganya pasti dijual lebih mahal daripada sepatu Bata.
Menjual dengan harga mahal atau tidak wajar sekalipun merupakan hak produsen, namun memilih barang yang mau dibeli tentu hak konsumen.
STRATEGI GAME EKSKLUSIF PC & GAME CONSOLE

Di masa kejayaan Playsation2, Sony memang cukup berhasil menerapkan strategi brilian dengan merilis game-game eksklusif yang hanya dibuat untuk Playsation2 saja.
Startegi ini berhasil membuat XBOX (generasi pertama) terpukul mundur. Namun perlu diingat bahwa strategi game eksklusif tersebut dapat sukses diterapkan karena saat itu Playstation2 memegang posisi market leader yang dominan (mayoritas). Oleh karena itu para developer game ekslusif tersebut tentu tidak keberatan game mereka hanya dibuat khusus untuk 1 segmen game console saja, karena 1 segmen itu adalah segmen mayoritas.
Sedangkan saat ini pangsa pasar game console sendiri sudah tak lagi dipegang oleh Sony (Playstation3), dan bukan juga oleh Microsoft (XBOX 360). Sungguh mengejutkan bahwa game console dengan teknologi rendah (tampilan grafis jelek), yaitu Nintendo Wii yang justru kini menjadi market leader.
Meskipun demikian berbeda dengan dengan semasa kejayaan Playstation2 dulu dimana Sony memiliki dominasi mutlak (mayoritas) di pangsa pasar game, kali ini pangsa pasar game terpecah secara lebih merata ke dalam 4 segmen perangkat game yaitu: Nintendo Wii, Microsoft XBOX 360, Sony Playstation3, dan PC
Oleh karena itu, saat ini, sebuah developer game akan sangat rugi bila menciptakan game yang eksklusif dibuat hanya untuk 1 segmen perangkat game tertentu saja. Sebab saat ini tidak ada 1 perangkat game yang menguasai mayoritas segmen pasar. Oleh karena itu menciptakan game eksklusif hanya akan berdampak mengurangi potensi income para developer game secara cukup besar.

Memang masih ada game-game eksklusif seperti Gran Turismo 3 (untuk Playstation3), Forza Motorsport 2 (untuk XBOX 360), dan STALKER (untuk PC). Namun jumlahnya pasti hanya segelintir saja.
Kebanyakan game-game eksklusif yang masih dibuat umumnya juga disesuaikan dengan selera penggunanya, sebagai contoh: game ekslusif PC umumnya tipe game untuk selera orang dewasa (FPS, RTS, RPG) sedangkan game eksklusif console lebih cocok dengan selera anak-anak (Fighting, Racing).
Meski demikian game-game best seller / populer / terbaik, umunya akan dibuat untuk semua platform gaming, karena developer game tersebut tentu tidak ingin menyia-nyiakan peluang income. Apalagi saat ini tidak ada market leader yang menguasai pasar secara mayoritas.

Namun yang jelas, mayoritas Game XBOX 360 akan juga ada di PC, begitupula sebaliknya, mengingat XBOX 360 memliki arsitektur yang serupa dengan PC dan game XBOX 360 juga diciptakan menggunakan PC.
Selain itu perlu diingat bahwa untuk segmen gaming di PC, Microsoft juga punya kepentingan yang besar yaitu untuk menjual OS Windows mereka. Saat ini justru Microsoft cukup agresif mendukung peluncuran game-game berbasis DirectX 10 yang tak lain adalah untuk menggenjot penjualan Windows Vista mereka.
Perlu diingat bahwa profit yang diperoleh Microsoft dari penjualan Windows Vista ratusan kali lebih besar daripada menjual XBOX 360. Oleh karena itu cukup konyol juga bila Microsoft hanya merilis game eksklusif hanya untuk XBOX 360 sedangkan tidak untuk PC, karena hal ini akan mematikan potensi income mereka dari penjualan Windows XP ataupun Vista.

Oleh karena itu peluncuran game eksklusif yang dulu menjadi senjata utama produsen game console, kini tampaknya tak terlalu bisa diandalkan lagi. Mengingat saat ini market share perangkat game sudah terpecah secara lebih merata (tidak ada pemain yang mayoritas).
Game-game yang terbukti laris di salah satu perangkat game, justru akan dibuat versinya untuk berbagai perangkat game lainnya (multi-platform). Ini karena developer game ingin memaksimalkan potensi pasar dari game laris tersebut. Lihat saja contohnya game laris NFS Carbon, bahkan versi handphonenya ada.

Dalam persaingan antar sesama game console, misal antara XBOX 360 vs. Playstation3, masing-masing bisa saja mengeluarkan game eksklusif yang tidak dimiliki di game console kompetitornya.
Namun biasanya untuk memperbesar income para pembuat game, mereka tetap harus memperluas market game tersebut ke segmen lain. Sehingga umumnya mereka juga membuat versi untuk PC, tapi tidak untuk versi game console competitornya.
Contoh:
- Lost Planet merupkan game buatan CAPCOM yang aslinya dibuat untuk XBOX 360 dan tidak ada di Playstation3. Tapi game ini juga tersedia untuk PC
- The Agency merupakan game buatan Sony yang aslinya dibuat untuk Playstation3 dan jelas tidak akan dibuat untuk XBOX 360. Tapi game ini juga tersedia untuk PC.
Jadi pengguna PC justru memiliki peluang untuk bisa memainkan game-game eksklusif yang ada di XBOX 360 maupun di Playstation3.

 

 

redball.gif (916 bytes)PERBANDINGAN KUALITAS GAMBAR PC vs. XBOX 360 PADA GAME LOST PLANET

Perbandingan kualitas gambar pada game Lost Planet menggunakan screenshot resmi yang berasal dari pembuat game ini yaitu CAPCOM.
Jadi perbandingannya tidaklah mengada-ada karena berasal dari developer gamenya sendiri yang memang mengakui kalau PC memiliki kemampuan menampilkan gambar yang lebih bagus daripada XBOX 360.
CAPCOM merupakan developer game yang selama ini banyak membuat game untuk console.

Ketersediaan Lost Planet untuk PC maupun XBOX 360 membuktikan bahwa Microsoft tidak ingin kehilangan segmen gamer di PC (Windows) maupun console (XBOX 360). Saat ini Lost Planet belum tersedia untuk Playstation 3, namun bila Microsoft punya andil besar di game ini, sudah dipastikan game ini tidak akan pernah ada di Playstation 3.

Game Lost Planet versi PC telah mendukung fitur-fitur canggih yang dimiliki videocard Geforce 88000, yaitu DirectX 10, HDR, Anti Aliasing hingga 16xQ, dan bahkan Multi-GPU.

Lost Planet adalah game yang pembuatannya (lagi-lagi) disponsori oleh Nvidia, jadi tampilan game ini akan lebih bagus bila dimainkan dengan menggunakan videocard Nvidia, dan bukan ATI.
Seorang gamer PC sejati pastilah menggunakan videocard Nvidia dan bukan ATI, karena 90% game PC yang beredar di pasaran disponsori oleh Nvidia dan hanya akan lebih baik tampilannya bila dimainkan dengan videocard Nvidia saja.

Demo game Lost Planet berukuran cukup kecil dan bisa didownload disini:
Lost Planet versi DirextX 9c (Windows XP / Vista) 372MB
Lost Planet versi DirectX 10 (Vista) 379MB

Untuk memainkan Lost Planet pada Windows XP, anda HARUS mengupdate driver Forceware anda ke versi 160.02 dan DirectX 9.0c juga harus diupdate ke April 2007 atau yang terbaru. Kedua file yang diperlukan tersebut bisa didownload di halaman depan website REVIEWLAND.COM

 

Shader Effect

Berkat kualitas pixel shader yang lebih baik pada PC, maka tampilan tembakan senjata terlihat lebih detaill dan tajam daripada di XBOX 360
Shadow & Lighting

Tampilan game di PC terlihat memiliki kualitas pencahayaan & bayangan yang lebih baik daripada di XBOX 360. Selain itu pada XBOX 360 beberapa objek terlihat tidak memiliki bayangan (soft shadow)
Texture Detail

Detail texture pada tubuh binatang terlihat lebih bagus pada PC dibanding XBOX 360
Parallax Mapping

Lubang bekas tembakan pada salju terlihat rebih realistis pada PC daripada XBOX 360. Pada XBOX 360 tampilan lubang terkesan flat tidak seperti berlubang betulan.
Hal ini menujukkan bahwa pada PC diimplementasikan fitur Parallax Mapping yang membuat lubang terlihat memiliki kedalaman. Parallax Mapping merupakan metode yang lebih canggih daripada Bump Mapping.

 

Shadow & Lighting

CLICK TO ZOOM
< CLICK TO ZOOM >
Pada XBOX 360 pencahayaan dan bayangan di gedung terlihat kurang bagus.
Detail jendela bangunan terlihat tidak memiliki kedalaman.
Bangunan di sisi kanan terlihat tidak memiliki bayangan yang jatuh ke tanah

CLICK TO ZOOM
< CLICK TO ZOOM >
Pada PC pencahayaan dan bayangan di gedung terlihat sempurna.
Detail jendela bangunan terlihat memiliki kedalaman.
Bangunan di sisi kanan terlihat memiliki bayangan yang jatuh ke tanah

Shadow & Lighting

CLICK TO ZOOM
< CLICK TO ZOOM >
Pada XBOX 360 pencahayaan dan bayangan di gedung terlihat kurang bagus.
Akibatnya detail jendela pada gedung tersebut terlihat flat.
Bangunan di sisi kiri bawah terlihat juga tidak memiliki bayangan yang jatuh ke tanah

CLICK TO ZOOM
< CLICK TO ZOOM >
Pada PC 360 pencahayaan dan bayangan di gedung terlihat bagus.
Sehingga detail jendela pada gedung tersebut terlihat memiliki kedalaman
Bangunan di sisi kiri bawah terlihat memiliki bayangan yang jatuh ke tanah

 

redball.gif (916 bytes)KESIMPULAN

Dari perbandingan kualitas grafis pada game Lost Planet, terbukti bahwa kualitas grafis pada PC yang menggunakan Geforce 8800GTS terlihat jauh lebih bagus ketimbang XBOX 360. Ini menunjukkan bahwa sarana bermain game tercanggih saat ini adalah PC dan bukan game console.

Kenyataan ini memang mungkin tak akan membuat para console gamer beralih ke PC, terutama bila console gamer tersebut adalah anak SD dan SMP yang notabene otaknya masih terlalu muda untuk mencerna kerumitan prosedur instalasi game di PC. Harus diakui bahwa PC memang berbeda dengan game console yang mudah dioperasikan. Bahkan anak tukang becak yang belum sempat mengenyam bangku SD saja sudah mampu mengoperasikan Playstation di rental-rental pojok kampung.

Secara psikologis, anak-anak kecil memang belum memiliki kemampuan untuk mencari solusi atas suatu problem & masalah. Padahal kemampuan mencari solusi tersebut diperlukan dalam dunia PC game. Mencari patch, crack, dan update driver, merupakan kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang PC gamer. Skill semacam itu jelas belum dimiliki oleh anak kecil yang tentu saja otaknya belum berkembang ke arah pencarian solusi. Oleh karena itu kaum anak-anak umumnya lebih memilih lari dari masalah dengan memilih bermain di game console ketimbang di PC.

Eratnya kaitan psikologis antara anak-anak dengan game console juga terbukti dari susksesnya Nintendo Wii sebagai console game terlaris. Meski tidak dibekali dengan teknologi grafis yang secanggih PC, XBOX 360 ataupun Playsation3, namun Wii sangat memfokuskan diri pada interaksi yang disukai anak-anak (motion-sensing & game bertema anak-anak).
Oleh karena itu jangan heran jika Nintendo Wii akhirnya menjadi game console terlaris #1 di dunia. Ini tak lain karena populasi anak-anak di dunia lebih banyak daripada orang dewasa. Coba lihat saja, Time Zone dan tempat bermain MacD tiap hari selalu penuh saja oleh anak-anak.
Banyaknya jumlah populasi anak-anak ini belum lagi ditambah dengan jumlah *orang dewasa yang kekanak-kanakan*. Akibatnya angka statistik kategori gamer “anak-anak” ini kian menggelembung saja.

Karena anak-anak terikat secara psikologis dengan console game, maka wajar saja jika para anak-anak juga masih ngotot dengan game console kesayangan mereka dan tak menggubris perbandingan teknis antara PC vs XBOX 360 di artikel ini.
Jangankan mencerna perbandingan teknis tersebut, bahkan untuk dapat melihat artikel ini saja anak kecil juga belum tentu mampu. Karena untuk mencapai halaman ini tentu harus melalui serangkaian prosedur seperti mengkoneksikan ke internet, mengetik URL, dan sebagainya. Itupun juga baru bisa dilakukan kalau mereka sudah cukup familiar mengoperasikan sebuah PC.

Oleh karena itu bila anda dapat membaca artikel ini, saya menganggap bahwa anda cukup sudah dewasa (bukan anak-anak lagi) dan tentu sudah bisa mengoperasikan PC.
Namun bila ternyata setelah membaca artikel ini anda tetap saja memilih menggunakan XBOX 360 sebagai sarana bermain, maka mungkin saja secara psikologis (dan mungkin juga biologis) anda masih termasuk kategori anak-anak seperti yang disebut diatas.

Tak mampu mencari solusi dan cenderung lari dari masalah biasanya merupakan 2 ciri tipikal yang umumnya dimiliki anak-anak dan mungkin saja juga dimiliki oleh orang dewasa yang masih bermain dengan game console.

Apakah anda termasuk kategori seperti itu?

Untuk mengetahui apakah anda masih kekanak-kanakan atau tidak, dan juga untuk mengetahui apakah Gaming PC atau XBOX 360 yang tepat untuk kondisi mental psikologis anda, maka di bawah ini saya memberikan pilihan perbandingan dengan menggunakan 2 buah test pilihan gambar agar mudah dicerna oleh orang yang berjiwa anak-anak sekalipun.
Jadi kini anda dapat mengetahui seperti apakah diri anda dengan memilih gambar yang cocok dengan selera & pilihan anda…..

 

 

Info

Juli 30, 2007 at 20:20 pm07 | In tulisan teratas | Leave a Comment
 

Setelah sempat menghebohkan pasar mainstream dengan prosesor

dual-core murah-meriah seharga $125 (Pentium D 805), kini Intel kembali

meluncurkan Pentium D930 untuk segmen kelas menengah yang lagi-lagi

membuat prosesor single-core di segmen harga tersebut merinding

. Bagaimana tidak, dengan harga D930 yang cuma $190, prosesor

ual-core tersebut tentu saja membuat prosesor single-core seperti

Athlon64 3800 yang notabene Lebih mahal jadi kehilangan daya tarik. Tidak hanya itu saja,

dengan potensi overclocknya yang hebat, D930 bahkan mulai membuat gelisah prosesor

dual-core mahal seperti Athlon64 X2 3800.

  Harga Jumlah
Core
L2 cache Manuf.
process
Hyper
threading
64bit
System bus FSB
clock
Athlon 64 X2 3800 “Manchester” $305 2 2×512KB 90nm No Yes 1000MHz 200MHz
Athlon 64 3800 “Venice” $275 1 512KB 90nm No Yes 1000MHz 200MHz
Pentium D 930 (3 GHz) “Presler” $190 2 1×2MB 65nm No Yes 800MHz 200MHz
Athlon 64 3500 “Venice” $125 1 512KB 90nm No Yes 1000MHz 200MHz
Pentium D 805 (2.66 GHz) “Smithfield” $125 2 1×2MB 90nm No Yes 533MHz 133MHz
Athlon 64 3200 “Venice” $105 1 512KB 90nm No Yes 1000MHz 200MHz

Intel tampaknya tengah melancarkan strategi price positioning untuk melawan AMD

di segmen menengah dan mainstream. Setelah Pentium D805 diposisikan untuk menyerang

Athlon64 3000/3200 di segmen mainstream, kini D930 “Presler” seharga $190 muncul dengan

mengemban 2 misi sekaligus, yaitu :
1. Membantai Athlon64 3800 (single-core) di segmen kelas menengah (kisaran $200)
2. Mempermalukan Athlon64 X2 3800 (dual-core) di kelas high-end (kisaran $300)

Demi melancarkan ambisinya untuk menguasai market segment kelas menengah,

Intel cukup royal dalam membekali L2 cache sebesar 4MB (2×2MB) pada D930. Ini membuat prosesor

tersebut bahkan masih mampu bersaing dengan Athlon64 X2 3800 seharga $305 yang berada

di segmen high-end. Memang tidak semua benchmark mampu dimenangkan oleh Pentium D930,

namun dengan selisih harga yang cukup banyak ($115) dibanding Athlon64 X2 3800, Pentium D930

dapat menjadi solusi dual-core yang lebih terjangkau.

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.